RI-AS Sepakati Impor Migas US$15 Miliar per Tahun, Pemerintah Klaim Dapat “Best Deal” 6,5 Persen

Maret 02, 2026 | Maret 02, 2026 WIB Last Updated 2026-03-02T07:00:28Z


Jakarta, detiksat.com || Indonesia memperkuat kerja sama strategis di sektor minyak dan gas bumi (migas) dengan Amerika Serikat (AS) melalui kesepakatan impor energi senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253 triliun per tahun. Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disepakati antara Prabowo Subianto dan Donald Trump pada Februari 2026.

Pemerintah menyebut kerja sama ini memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia, termasuk skema tarif rata-rata 6,5 persen yang dinilai kompetitif di tengah dinamika geopolitik global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Indonesia memperoleh kesepakatan terbaik dalam perjanjian tersebut.

“Indonesia mendapatkan best deal dengan rata-rata 6,5 persen. Kenaikan biaya akibat perang global tidak terlalu berdampak karena suplai dari Amerika Serikat dan turunannya seperti Venezuela tetap terjaga,” ujar Airlangga.

Ia menjelaskan, penandatanganan dilakukan di luar forum utama pertemuan bilateral dan melalui mekanisme board of space sebagai bagian dari kesepakatan teknis lanjutan.

“Perjanjian ini ditandatangani di luar meeting utama, melalui mekanisme yang sudah disepakati kedua negara. Ini bagian dari strategi besar memperkuat posisi tawar Indonesia,” tambahnya.

Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan impor tersebut bukan berarti menambah volume impor secara keseluruhan, melainkan mengalihkan sumber pasokan demi stabilitas harga dan kepastian pasokan energi nasional.

Kerja sama ini diharapkan mampu menjaga ketahanan energi Indonesia sekaligus mempererat hubungan dagang strategis RI-AS di tengah ketidakpastian ekonomi global, karena perang yang berlangsung.

(Reporter: Insignia.RA)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • RI-AS Sepakati Impor Migas US$15 Miliar per Tahun, Pemerintah Klaim Dapat “Best Deal” 6,5 Persen

Trending Now