Ahmad Khozinudin: Wahai Para Penguasa Arab, Berhentilah Menciptakan Pantat Persiden AS

Redaksi
April 07, 2026 | April 07, 2026 WIB Last Updated 2026-04-07T14:59:04Z
Ahmad Khozinudin: Wahai Para Penguasa Arab, Berhentilah Menciptakan Pantat  Persiden AS

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik 


Presiden Amerika Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversi pada 27-28 Maret 2026, yang menyatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), kini harus "mencium pantatnya" (menjilat/tunduk) agar bisa bersikap baik kepadanya. 

Narasi ini, secara implisit sebenarnya bukan hanya ditujukan pada MBS, melainkan juga mengarah pada seluruh penguasa Arab, yang selama ini tunduk pada kebijakan Amerika. Seluruh pangkalan militer Amerika yang ada di kawasan Arab, adalah konfirmasi bahwa para penguasa di kawasan ini adalah antek dan menjilat pada Amerika.

Pangkalan militer itu meliputi :

1. Di Qatar: Pangkalan Udara Al Udeid Pangkalan militer AS terbesar di kawasan ini, menampung sekitar 10.000 personel dan berfungsi sebagai markas depan U.S. Central Command (CENTCOM).

2. Di Bahrain: Naval Support Activity (NSA) Bahrain Markas besar Armada Kelima (5th Fleet) Angkatan Laut AS yang mengawasi operasi di Teluk Persia, Laut Merah, dan Laut Arab.

3. Di Kuwait: Camp Arifjan & Pangkalan Udara Ali Al Salem Camp Arifjan adalah pusat logistik utama Angkatan Darat AS, sementara Ali Al Salem mendukung operasi udara di dekat perbatasan Irak.

4. Di Uni Emirat Arab: Pangkalan Udara Al Dhafra Mendukung jet tempur canggih (seperti F-22) dan drone pengintai untuk misi di seluruh kawasan.

5. Di Arab Saudi: Pangkalan Udara Prince Sultan (PSAB) Fasilitas utama untuk pertahanan udara dan rudal (termasuk sistem Patriot dan THAAD) dengan ribuan tentara yang ditempatkan berdasarkan kesepakatan bilateral.

6. Di Irak: Ain Al Asad & Pangkalan Udara Erbil Digunakan untuk misi pelatihan dan kontra-terorisme, meskipun kendali operasional di Ain Al Asad mulai beralih ke militer Irak pada awal 2026.

7. Di Yordania: Pangkalan Udara Muwaffaq Salti Menjadi rumah bagi Sayap Ekspedisi Udara ke-332 dan mendukung operasi regional atas permintaan pemerintah setempat.

8. Dan satu di wilayah Israel: Site 512 Fasilitas radar canggih di gurun Negev yang dirancang khusus untuk mendeteksi ancaman rudal balistik. 

Kedelapan pangkalan militer ini telah dibombardir Iran. Para penguasa Arab itu baru sadar, jangankan melindungi mereka, bahkan pangkalan militer itu tak bisa melindungi Amerika.

Para penguasa Arab pengkhianat ini, menyewa pengamanan Amerika, mengizinkan tanah kedaulatan mereka untuk pangkalan militer, bukan untuk melindungi rakyat mereka. Melainkan, untuk melindungi kekuasaan mereka.

Hari ini, mereka terperanjat. Amerika tak lagi bisa dijadikan preman, satpam pengaman kekuasaan mereka. Bahkan, Amerika secara telanjang menghina mereka, menyebut mereka sebagai penjilat pantat.

Mereka saat ini, selain terhina juga menghadapi dilema.

Mengalihkan loyalitas pada negara lain, baik pada Eropa maupun Rusia dan China, tetap akan berpotensi menjadi budak. Bagaimanapun, tak akan ada satu negara yang mau melindungi negara lainnya, kecuali hanya untuk kepentingan nasionalnya.

Manakala kepentingan nasional berkehendak lain, maka mudah saja satu negara meninggalkan negara lainnya dan berfokus untuk melindungi kepentingan negaranya sendiri. Dan langkah inilah, yang nampaknya akan ditempuh Amerika, meninggalkan Timur Tengah dan fokus pada kepentingan nasional Amerika, meskipun harus menahan dengan muka yang penuh rasa malu.

Kenyataan ini, meruntuhkan doktrin keamanan nasional berbasis aliansi. Karena tidak ada aliansi yang benar-benar setia.

Hari ini, Amerika juga mengeluh. Aliansi NATO tak mau berperang bersama Amerika. Inggris, Perancis dan Spanyol kompak, tak mau terlibat invasi ke Iran, bahkan sekalipun dengan dalih membuka selat Hormouz.

Keamanan nasional pada akhirnya harus dibangun diatas asas kemandirian. Namun, para penguasa Arab sudah sangat terlambat. Mereka, terbiasa menggunakan jasa preman Amerika untuk pengamanan. Terbiasa manja dengan harta dan kekayaan yg melimpah.

Apalagi, jika rakyat di kawasan Arab mulai sadar, bahwa kekuasaan mereka berkhianat, tanah mereka digunakan untuk Amerika membunuh saudara muslim, baik di Irak, Iran, Afghanistan, Suriah hingga Palestina. Maka rakyat akan bergerak, menuntut revolusi, melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan, dan menuntut agar negara menegakkan kekuasaan Islam (Khilafah).

Sungguh, urusan perubahan itu hak Allah. Sangat mudah bagi Allah, saat berkehendak untuk menjatuhkan kekuasaan suatu kaum, dan mempergilirkan kejayaan pada kaum yang lain. [].
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ahmad Khozinudin: Wahai Para Penguasa Arab, Berhentilah Menciptakan Pantat Persiden AS

Trending Now