Foto: Dr. Hamza Huri Wulakada, M.Si (memegang mic) saat memaparkan materi dalam Seminar Nasional pada rangkaian Festival Lamaholot di GOR Oepoi, Kupang, Kamis, 9 April 2026 bersama narasumber lainnya, yakni Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Plt. Sekda Alor, Ketua Kabela Kupang Don Arakian, serta Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTT Linus Lusi Making. (Dok. EB).
Kupang, detiksatu.com || Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. Hamza Huri Wulakada, M.Si menegaskan bahwa budaya Lamaholot memiliki potensi besar sebagai basis penguatan ekonomi kawasan kepulauan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional pada rangkaian Festival Lamaholot bertajuk "Kebudayaan Lamaholot sebagai Basis Membangun Kekuatan Ekonomi Kawasan", yang digelar di GOR Kupang, Kamis, 9 April 2026 sekitar pukul 13.30 WITA.
Dalam pemaparannya, Dr. Hamza menjelaskan bahwa Lamaholot merupakan satu kesatuan kawasan budaya ("cultural region") yang melampaui batas administratif daerah, mencakup wilayah Flores Timur, Lembata, dan Alor.
Kesatuan ini, kata dia, ditandai oleh kesamaan bahasa dengan berbagai dialek, sistem adat berbasis suku, ritual dan kosmologi yang serumpun, serta sejarah interaksi antarpulau.
Menurut Dr. Hamza Wulakada, upaya reintegrasi budaya Lamaholot bukanlah "membangun sesuatu yang baru", melainkan merekonstruksi kembali kesatuan historis yang telah lama terbentuk sebelum adanya batas-batas administratif modern.
“Jaringan sosial, perdagangan, hingga sistem perkawinan antarkomunitas telah lama terjalin, sehingga secara sosiologis Lamaholot adalah satu kesatuan,” ujarnya.
Direktur Pascasarjana Universitas Nusa Cendana itu menekankan bahwa kekuatan budaya tersebut dapat menjadi modal sosial dalam pembangunan ekonomi.
Mengacu pada konsep modal sosial, ia menyebut kepercayaan, jaringan komunitas, dan nilai kolektivitas masyarakat Lamaholot merupakan fondasi penting untuk mendorong sektor unggulan seperti perikanan, pertanian lahan kering, ekonomi kreatif, dan pariwisata budaya.
Dari perspektif ekonomi regional, Wulakada menjelaskan bahwa pembangunan berbasis kawasan lebih efektif dibandingkan pendekatan administratif semata.
Ia berkata, integrasi kawasan Lamaholot dinilai mampu memperbesar skala ekonomi, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat daya saing daerah.
“Jika berjalan sendiri-sendiri, pasar menjadi kecil dan potensi terbatas. Namun jika terintegrasi dalam koridor Lamaholot, maka pasar menjadi lebih luas dan potensi ekonomi lebih kuat,” jelasnya.
Dalam konteks wilayah kepulauan, Ketua Ikatan Keluarga Lembata-Kupang itu juga menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan terintegrasi.
"Karakter geografis yang terfragmentasi, tingginya biaya transportasi, serta keterbatasan infrastruktur menuntut adanya konektivitas antarpulau yang kuat," ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan narasi sejarah yang kuat dan pengalaman budaya yang autentik, kawasan Lamaholot berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya maritim unggulan di Indonesia Timur.
Dr. Hamza juga mendorong model pembangunan berbasis komunitas ("community-based development"), di mana masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan lokal.
Lebih lanjut, Hamza mengusulkan penguatan kerja sama antardaerah melalui konsep Koridor Lamaholot yang mengintegrasikan potensi Flores Timur, Lembata, dan Alor.
Sinergi ini dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi pembangunan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat identitas, nilai lokal, dan keberlanjutan sosial masyarakat Lamaholot,” pungkasnya.
Don Arakian Tawarkan Konsep Ekonomi Biru untuk Pengembangan Kawasan Lamaholot
Ketua Umum Keluarga Besar Lamaholot Kupang terpilih, Don Arakian, memaparkan gagasannya terkait pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) bagi wilayah Lamaholot.
Menurut dia, konsep kawasan ekonomi khusus sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru, karena merupakan pengembangan dari berbagai model ekonomi yang pernah diterapkan sebelumnya.
Don Arakian menjelaskan bahwa secara konseptual, kawasan ekonomi khusus merupakan turunan dari konsep "Free Trade Zone" atau zona perdagangan bebas.
Dalam praktiknya, kata dia, konsep tersebut berkembang dari berbagai model kawasan ekonomi terpadu yang pernah dikembangkan pemerintah di masa lalu.
“Pemahaman kami tentang kawasan ekonomi khusus sebenarnya merupakan turunan dari konsep kawasan ekonomi terpadu yang pernah diterapkan sebelumnya," katanya.
Dalam perkembangannya, konsep tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan ekonomi khusus yang memberikan berbagai kemudahan bagi proses produksi dan industri,” jelasnya.
Ia mengatakan, pada kawasan ekonomi khusus biasanya terdapat berbagai kemudahan regulasi dan fasilitas yang membuat proses produksi dan distribusi barang menjadi lebih efisien.
"Model seperti ini juga telah diterapkan di berbagai sektor, termasuk kawasan industri, kawasan bandara, hingga kawasan pelayanan kesehatan."
Menurut Don Arakian, dalam konteks pengembangan wilayah Lamaholot, konsep tersebut perlu disesuaikan dengan potensi utama daerah, terutama potensi kelautan.
“Kekuatan utama kawasan Lamaholot adalah laut. Karena itu, konsep yang kami tawarkan adalah pengembangan ekonomi biru,” ujarnya.
Ekonomi biru, lanjutnya, merupakan konsep pembangunan ekonomi yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, ia menjelaskan bahwa berbagai sektor industri berbasis kelautan dapat dikembangkan secara terpadu.
Pria asal Pulau Adonara itu mencontohkan bahwa daerah-daerah di kawasan Lamaholot sebenarnya telah memiliki berbagai potensi produk lokal yang dapat dikembangkan menjadi komoditas unggulan.
"Produk-produk tersebut dapat menjadi identitas daerah sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat," tuturnya.
Don Arakian menuturkan bahwa ketika seseorang berkunjung ke suatu daerah, idealnya mereka tidak hanya membawa cerita tentang tempat tersebut, tetapi juga membawa produk khas daerah sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Ia juga menyinggung potensi produk lokal dari wilayah Lembata yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat dikembangkan lebih jauh melalui penguatan industri lokal.
“Sebetulnya ini yang harus kita bangun. Jika konsep ekonomi biru dikembangkan secara serius, maka fokusnya adalah pada pembangunan industri berbasis potensi daerah,” katanya.
Dalam pemaparannya, Don Arakian menawarkan dua konsep utama pengembangan kawasan Lamaholot.
Konsep pertama adalah pengembangan lanskap budaya Pulau Solor–Adonara–Lembata-Alor sebagai destinasi wisata budaya.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki kekayaan budaya dan elemen destinasi yang sangat kuat.
Konsep kedua adalah pengembangan Lamaholot sebagai koridor budaya yang menghubungkan wilayah Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, Alor dalam satu rangkaian perjalanan wisata.
“Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, Alor harus menjadi satu rangkaian perjalanan wisata. Dengan begitu, wisatawan dapat tinggal lebih lama dan menikmati berbagai produk wisata yang kita tawarkan,” ujarnya.
Produk wisata tersebut, lanjutnya, dapat mencakup wisata budaya, kuliner lokal seperti kopi, wisata kampung adat, hingga wisata religi.
Don menegaskan bahwa apabila dua konsep besar tersebut disepakati, maka langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam bentuk "master plan" pengembangan kawasan yang lebih terstruktur.
Don Arakian berharap gagasan tersebut dapat menjadi bahan diskusi bersama, khususnya bagi para kepala daerah di wilayah Lamaholot.
“Dua pikiran ini saya tawarkan kepada para bupati dan forum ini untuk dielaborasi lebih jauh dalam format pengembangan kawasan yang lebih konkret,” katanya.
Reporter: Emanuel Boli

