Foto: Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat membawakan sambutan dalam kegiatan Festival Lamaholot di GOR Kota Kupang, Kamis, 9 April 2026 (dok. EB)
Kupang, detiksatu.com || Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma menghadiri Festival Lamaholot yang digelar di GOR Kupang, Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 11.30 WITA.
Kegiatan bertema “Kebudayaan Lamaholot Basis Ekonomi Membangun Ekonomi Kawasan” tersebut dihadiri ratusan keluarga Lamaholot di Kota Kupang.
Kehadiran kedua pimpinan Provinsi Nusa Tenggara Timur itu menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan identitas budaya dan solidaritas keluarga Lamaholot di Kupang.
Dalam sambutannya, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menekankan pentingnya kesatuan dan keterhubungan antarkomunitas sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Gubernur Emanuel berkata, berbicara tentang Lamaholot tidak hanya membahas identitas individual, tetapi juga pengalaman kolektif yang memiliki kedalaman historis, simbolik, dan keterhubungan dalam satu ekosistem sosial budaya yang kuat.
Ia menegaskan bahwa budaya Lamaholot memiliki konsep kesatuan asal-usul yang menekankan solidaritas, persaudaraan, dan kebersamaan dalam satu tanah serta jaringan sosial yang erat.
Gubernur NTT juga menyinggung pengalamannya berdiskusi dengan sejumlah tokoh NTT saat berada di Jakarta.
Ia menyebut konsep "Lewotana" atau tanah asal sebagai simbol kesatuan masyarakat NTT yang tersebar di berbagai daerah.
"Kita adalah satu kesatuan dalam Lewotana,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gubernur Melki mendorong agar kekuatan budaya Lamaholot tidak hanya dijaga sebagai warisan identitas, tetapi juga dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi berbasis kawasan.
Ia mengatakan, pendekatan berbasis budaya dan kepulauan harus terintegrasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.
“Budaya jangan hanya menjadi simbol. Budaya harus masuk dalam produktivitas dan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap forum dan festival semacam ini dapat melahirkan gagasan strategis untuk membangun kawasan Lamaholot secara komprehensif serta memperkuat kerja sama antardaerah.
Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma menegaskan bahwa nama Lamaholot harus identik dengan citra positif.
“Ketika berbicara tentang orang Lamaholot, yang muncul di pikiran orang adalah pribadi-pribadi yang anggun, cerdas, bekerja keras, jujur, dan disiplin,” ujarnya.
Ia mengajak keluarga besar Lamaholot menjaga citra tersebut dan menghindari stigma negatif.
“Kita tentu memilih kesan yang pertama, kesan yang positif. Ketika menyebut Lamaholot, yang muncul adalah kebanggaan,” katanya.
Johni juga menyebutkan kontribusi masyarakat Lamaholot dalam berbagai bidang, mulai dari pemikir, politisi, hingga pengusaha.
Ia berharap seminar dan rangkaian festival dapat melahirkan pemikiran strategis untuk membangun entitas Lamaholot secara komprehensif.
Ia berkata, festival ini harus menjadi momentum memperkuat identitas, mempererat persaudaraan, serta menyiapkan generasi muda agar lebih berperan di tingkat daerah maupun nasional.
“Festival ini harus menjadi momen utuh untuk memperkuat identitas dan menyiapkan generasi muda agar lebih berperan dalam berbagai bidang kehidupan,” tandas mantan Kapolda NTT itu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Plt Sekda Alor, yang menjadi narasumber seminar.
Selain itu, turut hadir anggota DPRD Provinsi NTT, serta para tokoh Lamaholot Lima "Watan" (Solor, Flores Timur Daratan, Adonara, Lembata, Alor) di Kota Kupang.
Reporter: Emanuel Boli