Jakarta, detiksatu.com || Di sebuah sudut kehidupan yang sederhana, hiduplah seorang ibu bernama Lestari. Usianya sudah senja. Keriput di wajahnya menjadi saksi perjalanan panjang hidup yang penuh perjuangan. Namun di balik kelembutannya, tersimpan luka mendalam yang tak kunjung sembuh—luka karena kepercayaan yang dikhianati.
Semua bermula ketika Ibu Lestari dipertemukan dengan seorang kepala sekolah bernama Heru yang menjabat selaku kepala sekolah di daya susila.
Sosok yang dihormati di masyarakat itu datang dengan janji-janji manis. Ia mengiming-imingi bisnis DO beras yang berlokasi di tanjung priok,.dan 1(satu) DO Rp. 600.000.000,- dan Dr. lestari membeli 2 2(dua) DO,.total kerugian Ibu Lestari Rp. 1.2 miliar dengan harapan besar—sebuah kesempatan yang disebut-sebut bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik tetapi malah mendapat ketidakadilan dari pihak kepolisian.
Tak sendiri, Heru juga membawa seorang rekannya, Yudis Tira. Keduanya tampil meyakinkan, berbicara penuh keyakinan, seolah apa yang mereka tawarkan adalah jalan keluar dari kesulitan hidup yang selama ini membelenggu Ibu Lestari.
Dengan penuh harap dan kepercayaan, Ibu Lestari mengikuti arahan mereka. Ia menyerahkan apa yang diminta, tanpa sedikit pun curiga bahwa semua itu hanyalah awal dari sebuah penipuan yang kejam.
Waktu berlalu.
Janji-janji itu tak pernah terwujud. Heru dan Yudis Tira perlahan menghilang, meninggalkan Ibu Lestari dalam kebingungan dan kesedihan.
Harapan yang dulu membara kini berubah menjadi kehampaan.
Tak tinggal diam, Ibu Lestari memberanikan diri melapor ke Polres Garut. Dengan langkah tertatih, ia membawa bukti-bukti dan harapan bahwa keadilan masih ada.
Namun kenyataan kembali menghantamnya.
Proses hukum berjalan tanpa kejelasan selama 4 tahun tidak ada kejelasan dari pihak aparat penegak hukum.khususnya pihak kepolisian. Hari demi hari berlalu tanpa titik terang. Hingga suatu saat, kabar yang lebih menyakitkan datang—berkas-berkas penting milik Ibu Lestari yang ia serahkan sebagai bukti, dinyatakan hilang.
Satu kata yang menghancurkan segalanya.
Bagi Ibu Lestari, itu bukan sekadar dokumen. Itu adalah harapan. Itu adalah satu-satunya pegangan untuk memperjuangkan keadilan. Kini, semua lenyap tanpa jejak.
Tangisnya pecah. Di usia yang tak lagi muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit: ditipu, diabaikan, dan kini seperti kehilangan hak untuk didengar.
Kasus ini pun menjadi sorotan, memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin seorang korban kehilangan berkas di institusi penegak hukum? Di mana keadilan bagi rakyat kecil seperti Ibu Lestari?
Kisahnya bukan sekadar cerita penipuan dan penggelapan. Ini adalah potret getir tentang rapuhnya kepercayaan publik terhadap penegak hukum, tentang seorang ibu yang hanya ingin hidup lebih baik, namun justru terjerumus dalam ketidakpastian dan keadilan.
Dan hingga hari ini, Ibu Lestari masih menunggu.
Menunggu keadilan yang entah kapan akan datang keadilan untuk Sdr. Dr. Lestari

