Jakarta,detiksatu.com || Ruang publik belakangan ini diwarnai aneka spekulasi, dan ragam perspektif dari masyarakat dalam menyikapi potongan ceramah Jusuf Kalla saat di atas mimbar masjid kampus UGM. Viralnya video tersebut, memantik banyak tanggapan hingga berujung laporan polisi.
Bagi kaum oportunis yang memiliki sentimen negatif, dan dendam kesumat langsung menjustifikasi layaknya hakim jalanan klaim ceramah JK mengandung frasa penistaan Agama. Kesimpulan dini tanpa verifikasi dan validasi ini merupakan tuduhan keji.
Pak JK diatas mimbar masjid kampus UGM, ia tidak pada posisi menafsirkan kitab suci sebagai seorang teolog, tetapi sedang memberikan siraman intelektual kepada para tamu tentang perjalanan empirik dan menjelaskan fakta historis masa lalu mengenai tragedi kemanusiaan sebagai seorang yang berjasa damaikan konflik Ambon-Poso.
Dalam ceramah pak JK yang viral, beliau tidak produksi narasi baru tentang konflik umat beragama akhir-akhir ini, tetapi mendaur ulang cerita lama kepada masyarakat agar jangan mau mengadopsi dan implementasikan doktrin sesat dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Artinya, disini standing position pak JK tidak sedang mengartikulasikan kehidupan umat beragama di Indonesia dalam konteks yang luas, tetapi ia melakukan refleksi historis secara spesifik hanya berfokus pada orang Islam dan Kristen Ambon-Poso disaat mereka terseret dalam arus konflik komunal.
Menjelaskan realisme historis konflik di Ambon-Poso untuk mencerahkan masyarakat tentu sangat baik, dan konteksnya jelas berbeda dengan beropini tentang kehidupan Islam-Kristen secara general.
Jika, dari statement pak JK dinilai mengandung unsur dugaan tindak pidana penistaan Agama, maka mestinya yang membuat laporan Polisi adalah orang Islam dan Kristen Ambon-Poso, bukan umat Agama daerah lain, kecuali ceramah tersebut menyinggung umat Islam dan Kristen Indonesia saat ini dalam arti lebih luas.
Dalam isi ceramah nya, pak JK tidak menggunakan frasa "orang Islam dan Kristen Indonesia" secara umum, tetapi secara spesifik hanya pada orang "Islam dan Kristen Ambon-Poso". Diksi "Islam dan Kristen" dalam ceramah tidak berdiri sendiri, namun menjadi satu kesatuan kalimat utuh dengan menyebutkan nama daerah.
Sumber: paman Nurlette

