Haji Mabrur Harus Berdampak Pada Akhlak dan Kehidupan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَأَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Wa adzdzin fin-nāsi bil-ḥajji ya’tūka rijālaw wa ‘alā kulli ḍāmiriy ya’tīna min kulli fajjin ‘amīq.
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus; mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini hari ini benar-benar nyata terjadi. Jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia datang memenuhi panggilan Allah untuk berhaji ke Tanah Suci. Ada yang datang dari desa-desa kecil, kota besar, negeri miskin maupun negara maju. Semuanya berkumpul dengan pakaian ihram yang sederhana di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.*
Namun sangat disayangkan, terkadang substansi dan hikmah haji belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sebagian orang setelah pulang berhaji.
Masih ada yang telah berhaji tetapi tetap:
Menjadi rentenir
Melakukan korupsi
Berbuat zalim
Melakukan maksiat
Sombong dan merendahkan orang lain
Padahal haji mabrur seharusnya melahirkan perubahan akhlak, perilaku, dan kepedulian sosial yang nyata.
Haji bukan hanya perjalanan fisik ke Makkah, tetapi perjalanan ruhani untuk membersihkan hati dan memperbaiki kehidupan.
Makna Simbolik Ibadah Haji Dalam Kehidupan
Kain Ihram
Mengajarkan nilai egaliter dan kesederhanaan. Di hadapan Allah tidak ada kesombongan jabatan, kekayaan, ataupun status sosial.
Mencium Hajar Aswad
Seharusnya tercermin dalam perilaku penuh kasih sayang, menghormati ibu, istri, keluarga, dan sesama manusia.
Maqam Ibrahim
Mengajarkan keteguhan iman, kewibawaan, dan kepemimpinan yang bertakwa serta penuh tanggung jawab.
Hijir Ismail
Mengingatkan pentingnya membangun generasi yang saleh, taat, hormat, dan berbakti kepada orang tua.
Tawaf
Mengajarkan bahwa hidup harus selalu berpusat kepada Allah, bukan kepada hawa nafsu, kekuasaan, ataupun materi.
Sa’i antara Shafa dan Marwah
Mengajarkan semangat ikhtiar, perjuangan hidup, empati sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, sepulang haji seharusnya seseorang semakin ringan membantu orang lain, memperbaiki keluarga, memperbaiki lingkungan kerja, organisasi, partai politik, kampus, bahkan pemerintahan dan lembaga-lembaga negara.
Jika seseorang sudah berhaji tetapi masih dipenuhi kemunafikan, kezaliman, dan kesombongan, maka itu tanda bahwa substansi haji belum benar-benar dipahami.*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَآبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِ ۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ
“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan melata, dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang dapat memuliakannya. Sungguh Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Hajj: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua manusia yang beribadah otomatis selamat jika ibadahnya tidak melahirkan ketakwaan dan akhlak yang benar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
هٰذٰنِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ
“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang-orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api untuk mereka. Ke atas kepala mereka disiramkan air yang mendidih.”
(QS. Al-Hajj: 19)
يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ
“Dengan air mendidih itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.”
(QS. Al-Hajj: 20)
وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ
“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.”
(QS. Al-Hajj: 21)
كُلَّمَاۤ اَرَادُوْۤا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ
“Setiap kali mereka hendak keluar darinya karena tersiksa, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka: Rasakanlah azab yang membakar ini!”
(QS. Al-Hajj: 22)
Betapa dahsyat azab Allah bagi manusia yang mengetahui kebenaran tetapi tetap berlaku zalim, sombong, musyrik, dan merusak kehidupan.
Mereka sudah bersyahadat, sudah sholat, sudah puasa, sudah zakat, bahkan sudah berhaji, namun ibadah itu tidak membentuk akhlak dan ketakwaan dalam kehidupannya.
Karena itu, hakikat haji mabrur bukan hanya gelar “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”, tetapi perubahan nyata dalam:
Akhlak
Kejujuran
Kepedulian sosial
Kerendahan hati
Ketakwaan kepada Allah
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bukan hanya rajin beribadah secara lahiriah, tetapi juga memiliki hati yang bersih, akhlak yang mulia, dan kehidupan yang membawa manfaat bagi sesama.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin
Salam Ta'ziem dan Jihad
BES = Brother Eggi Sudjana


Tidak ada komentar:
Posting Komentar