detiksatu.com

Iklan

Iklan

Warga Desa Sukakarya Nihaya (55) Berjuang Sendiri Suami Stroke Anak Putus Sekolah

Sabtu, 23 Mei 2026 | Sabtu, Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-23T05:39:44Z

Bekasi – detiksatu.com ll
Di Kampung Kuda-Kuda RT 002 RW 004 Desa Sukakarya, seorang perempuan berusia 55 tahun bernama Nihaya tengah bergulat dengan berbagai kesulitan hidup. Kondisi kesehatan suaminya yang tidak membaik dan ekonomi keluarga yang sangat terbatas membuatnya harus menjadi tulang punggung tunggal, dengan harapan bisa mendapatkan bantuan dari para donatur maupun pihak pemerintah terkait.
 
SUAMI UNIN AMINUDIN (60) TERBARING LEMAH, PERLU KURSI RODA
 
Suaminya, Unin Aminudin (60), telah mengalami serangan stroke selama lebih dari tiga tahun terakhir. Kondisinya membuatnya tidak dapat lagi bekerja untuk menafkahi keluarga, dengan tangan dan kaki sebelah kirinya tidak dapat digerakkan sama sekali. Kini ia hanya bisa duduk atau terbaring lemah di atas kasur, dan hingga saat ini belum ada biaya yang tersedia untuk menjalani pengobatan lebih lanjut.
 
Nihaya kini harus bekerja keras dengan berbagai pekerjaan agar keluarga tetap bisa bertahan hidup. "Melihat kondisi suami begini, saya bingung harus minta bantuan ke siapa," ujarnya dengan nada yang penuh kesedihan. Ia sangat berharap bisa mendapatkan kursi roda untuk suaminya agar bisa lebih mudah bergerak, serta dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga sehari-hari.
 
PENDAPATAN TIDAK MENCOLOK, HARUS BERJUANG SETIAP HARI
 
Tanpa pekerjaan tetap apapun, Nihaya terpaksa mencari nafkah dengan cara-cara yang bisa ditemukan. Ia menjadi buruh tanam padi, berjualan genjer, hingga melakukan pekerjaan buruh tani lainnya seperti mencari padi atau yang biasa disebut "ngasag".
 
Namun, penghasilan yang diperoleh setiap hari belum pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup suami dan kedua anaknya. "Kadang saya ikut harian kerja di sawah orang, jualan genjer, dan mencari padi (ngasag)," ungkap Nihaya sambil menguraikan segala upaya yang telah dilakukannya.
 
PENDIDIKAN YANG HARUS DITINGGAL, HARAPAN MENJADI KESUSAHAN
 
Sebelum kondisi keluarga memburuk, Nihaya selalu berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan kedua anaknya. Ia selalu mengutamakan pendidikan sebagai harapan utama agar anak-anaknya bisa memiliki masa depan yang lebih baik dan mengenal dunia lebih luas. Namun kini, harapan itu harus sirna karena anak-anak terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan studi mereka.
 
"Harapan saya dulu pendidikan adalah nomor satu. Supaya suatu saat mereka bisa mengenal dunia. Walau kadang sangat susah untuk biaya dan perlengkapan sekolah," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Sekarang saya bingung, akhirnya anak-anak saya putus sekolah karena tidak ada biaya," tambahnya dengan nada penuh penyesalan.
 
TERCATAT KELUARGA MISKIN, TAPI BELUM PERNAH TERIMA BANTUAN
 
Walaupun nama keluarga Nihaya telah tercatat sebagai keluarga miskin di desa mereka, hingga saat ini mereka belum pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah, baik berupa bantuan pangan, uang tunai, maupun bantuan lainnya.
 
Nihaya sangat berharap ada donatur baik hati maupun pihak pemerintah – mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga pusat – yang dapat memberikan uluran tangan untuk membantu mengubah keadaan keluarga mereka dan memberikan harapan baru bagi mereka yang tengah berjuang menghadapi kesulitan berat ini.
 
Reporter (Roan)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Warga Desa Sukakarya Nihaya (55) Berjuang Sendiri Suami Stroke Anak Putus Sekolah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trending Now