Jayapura, detiksatu.com || Narasi "Satu Korsa" tampaknya disalahartikan secara liar di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih. Bukannya menjaga kehormatan satuan, belasan oknum prajurit justru diduga terjebak dalam pusaran skandal asusila bersama seorang istri rekan sejawat mereka sendiri.
Kasus yang melibatkan istri anggota Batalyon Infanteri 756/Wimane Sili ini bukan sekadar gosip media sosial, melainkan tamparan keras bagi kedisiplinan militer. Bayangkan, 13 prajurit yang seharusnya menjadi benteng pertahanan, kini justru harus berhadapan dengan penyidik Pomdam akibat dugaan perselingkuhan berjamaah.
Disiplin yang Luntur atau Krisis Moral?
Letkol Inf Tri Purwanto, Kapendam XVII/Cenderawasih, hanya bisa memberikan keterangan normatif bahwa kasus ini "sedang dalam tahap penyidikan". Namun, publik telanjur bertanya-tanya: Bagaimana mungkin pengawasan internal bisa bobol hingga melibatkan belasan personel sekaligus?
"Saat ini sudah dalam tahap proses penyidikan di tingkat Pomdam," ujar Letkol Tri singkat, seolah mencoba meredam api yang sudah terlanjur membakar reputasi institusi.
Ponsel Sebagai Saksi Bisu
Penyidik dikabarkan telah menyita sejumlah ponsel sebagai barang bukti. Di era digital ini, jejak mesra yang tertinggal di layar gawai menjadi bukti tak terbantahkan betapa rapuhnya integritas oknum-oknum tersebut.
Laporan yang masuk sejak pertengahan Februari 2026 ini menunjukkan bahwa pengkhianatan tidak hanya terjadi terhadap sang suami yang sedang bertugas, tetapi juga terhadap sumpah prajurit. Jika dugaan ini terbukti, pemecatan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk membersihkan institusi dari "benalu" moral.
Red-Ervinna