Tausiyah Ramadhan Eggi Sudjana: Tak Ada Kebencian, Terhadap Siapapun Tidak Pernah Menerima Dana Dari Jokowi

Redaksi
Februari 26, 2026 | Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-25T22:22:59Z
Jakarta, detiksatu.com ||  Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, dan nikmat bisa berkumpul, bermuhada , bermuasabah di Ramdhan penuh berkah ini, ungkap Eggi Sudjana dalan tausyiah pada (25/2/26)

Dalam Tausiyahnya ini, Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana mengatakan ada tiga hal penting dalam memaknai substansi bulan Ramadan. 

Hal itu dia ungkapkan ketika menyampaikan tausiyah Ramadhan di jalan Pati Menteng Jakarta pusat dengan tema 'Hakikat Dalam Kepemimpinan Bukan Untuk Menyengsarakan Rakyat' 

Jadi Ramadan itu memproduksi orang yang berempati, jujur, adil dan berlaku benar. Itu yang utama dari hasil Ramadan," kata Eggi dalam Tausiyahnya 


 lanjut Eggi, dari hasil orang yang memiliki empati, kejujuran, keadilan dan kebenaran maka dapat memprogram diri dan keluarga untuk terhindar dari siksa api neraka.


Apa wujudnya, satu program yang harus dijaga, harus dijaga pendidikannya. Pendidikannya spesifik tauhid dan akidah. Karena itu fardu ain, wajib dalam berbangsa dan bernegara, penting mempelajari ilmu tauhid, ilmu tentang Allah," lanjutnya.

Selain pendidikan, yang harus dijaga adalah kemampuan ekonomi dan silaturahmi. Lebih lanjut, jika sudah menjaga diri dan keluarga, kata Eggi, tugas selanjutnya adalah mendidik masyarakat bangsa dan bernegara.

"Di sini lah tugas pemimpin. Pemimpin mempunyai amanah yang besar, rakyatnya harus mengerti tentang Allah. Karena negeri ini mayoritas beragama Islam," katanya.

Salah satu caranya, kata dia, pemerintah harus memfasilitasi dan mengajarkan masyarakat untuk membaca Alquran dan menerapkan hukum Islam.

Dengan demikian, Eggi menekankan bahwa pemimpin ke depan harus bertakwa kepada Allah dan mampu mengerti orientasi kepemimpinannya serta dapat memberikan peningkatan kepada para bawahannya.

Akan tetapi, Eggi di akhir tausiyah mengatakan bahwa dia tidak bermaksud menebar kebencian melalui ceramahnya tersebut.

"Di akhir tausyiah ini, kita mesti menyadari, tidak ada kebencian, tidak ada karena ingin bermusuhan, saya sayang dengan Presiden. Sayang dengan semua yang memimpin negeri ini dan sayang itu tulus," ujarnya.


Jadi jangan ditafsirkan tausyiah ini adalah kebencian. Ini justru kasih sayang, justru kita ingin negeri kita, jadinya kita tidak ikut susah kalau dipimpin orang-orang yang zalim, kafir, munafik kepada kita," lanjutnya.

Lantas, dia pun memimpin doa untuk meminta ampunan kepada Allah agar mengampuni dan memberi hidayah kepada semua pemimpin negeri.

"Ya Allah kami hidup di negeri Indonesia yang penuh kemunafikan ini Ya Allah, berilah hidayah kepada pemimpin negeri ini untuk bertobat kepadaMu Ya Allah, untuk mau mengajarkan tentang Engkau, membacakan Quran, mengajarkan salat agar patuh dan tunduk kepadamu dan infak agar kami tidak bakhil," katanya.


Ya Allah, jika pemimpin tetap lalai, abaikan semua ini, maka dengan kekuasaan Mu ya Allah, Engkaulah yang berikan kekuasaan atas siapa yang kau kehendaki dan engkau pula yang cabut kekuasaan itu. Maka cabutlah kekuasaannya ya Allah, ganti dengan orang-orang yang takwa agar kami dipimpin ke jalan takwa," ujarnya.



Ramadan insya Allah ya, Alhamdulillah di hari yang ke-8 ya, atau ke-9 ini.
Kita masih diberikan kesanggupan, kemampuan untuk menjalankan ibadah puasa.


Semoga hikmah puasa atau Ramadan kita ini bisa membentuk kita sebagai manusia yang ihsan,manusia yang takwa, minimal, menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya di bulan suci Ramadan ini.

Tapi juga menjadi momen untuk kita melakukan refleksi dan evaluasi terhadap situasi kebangsaan kita.

Ali ‘Imran ayat 102 mengingatkan agar takwa dijaga secara konsisten hingga akhir hayat. Takwa bukan hanya keberanian bersuara keras, tetapi juga ketepatan cara dan kebersihan niat. Dalam hukum, dialog dan klarifikasi adalah bagian sah dari proses keadilan. Selama dilakukan tanpa manipulasi dan intervensi terhadap aparat, langkah tersebut justru menunjukkan kedewasaan bernegara.

Ayat berikutnya, Ali ‘Imran 103–104, menyerukan persatuan dan amar ma’ruf nahi munkar. Perbedaan pandangan tidak boleh berubah menjadi perpecahan sosial. Kritik sah, tetapi harus berbasis fakta dan etika. Ketika konflik hukum dibingkai secara emosional, masyarakat mudah terbelah. Dialog justru berfungsi sebagai penenang, bukan pengkhianatan.

Surah Al-Baqarah ayat 207 berbicara tentang pengorbanan demi mencari ridha Allah. Tidak semua pengorbanan berbentuk perlawanan frontal. Ada pengorbanan yang justru berupa kesediaan menahan ego, menanggung salah paham publik, dan menerima risiko reputasi demi membuka peluang penyelesaian yang lebih maslahat. Dalam perspektif ini, langkah Eggi dapat dipahami sebagai ikhtiar menempatkan kepentingan hukum dan ketertiban sosial di atas sentimen pribadi.


Al Baqarah, ayat 208 menegaskan agar Islam dijalankan secara menyeluruh. Artinya, iman harus sejalan dengan akal sehat, etika publik, dan penghormatan pada sistem hukum yang adil. Menutup pintu dialog, memelihara konflik tanpa ujung, atau membiarkan emosi menguasai akal justru membuka celah bagi bisikan destruktif yang merugikan semua pihak.

Petuah ini sejalan dengan spirit Al-Qur’an, menolak kesewenang-wenangan, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kemaslahatan. Perjuangan tidak berhenti pada keberanian melawan, namun kebijaksanaan mengelola perbedaan, dan jangan jadikan kekuasaan sebagai alat balas dendam, melainkan amanah untuk menghadirkan keadaban publik.

Maka dialog tidak selalu berarti kompromi prinsip, apalagi menjual idialisme gerakan. Justru dalam banyak keadaan, dialog adalah jalan untuk menjaga agar prinsip tidak tergelincir menjadi fanatisme buta. Kebenaran tidak takut pada keterbukaan, justru yang takut dialog biasanya kepentingan sempit dan egoisme yang rapuh.

Pada akhirnya, publik perlu menilai secara adil, apakah langkah ini melanggar hukum? Apakah menghilangkan peran aparat? Apakah menutup ruang keadilan? Jika jawabannya tidak, maka langkah tersebut patut dipahami sebagai bagian dari ikhtiar bermartabat dalam negara hukum.

Di tengah hiruk-pikuk opini, Al-Qur’an mengajarkan ketenangan berpikir, kejernihan nurani, dan keberanian bersikap adil. Di sanalah ikhtiar hukum dan nurani bertemu: bukan untuk memenangkan ego, tetapi untuk menjaga martabat keadilan dan kedewasaan demokrasi bangsa, pungkasnya.

Terakhir: Eggi Sudjana tidak pernah menerima uang dari Jokowi, tidak pernah minta maaf kepada Jokowi, maka Roy Suryo cs jangan membangun fitnah dan jangan bangun kebencian terhadap saya.
(Red)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tausiyah Ramadhan Eggi Sudjana: Tak Ada Kebencian, Terhadap Siapapun Tidak Pernah Menerima Dana Dari Jokowi

Trending Now