Pemimpin Dunia Bertengkar Soal Iran, Begini Cara Trump Permalukan Marcon Didepan Sekutu Nato

Redaksi
April 14, 2026 | April 14, 2026 WIB Last Updated 2026-04-14T10:22:59Z
Jakarta,detiksatu.com || Hubungan antara Amerika Serikat dan Prancis sedang berada di titik yang tidak nyaman. Bukan karena perundingan diplomatik yang gagal, bukan karena dokumen rahasia yang bocor, tapi karena sebuah lelucon yang dilontarkan Donald Trump di depan para sekutu NATO, yang langsung viral dan memicu kemarahan di dua benua.

Ini bermula dari sebuah makan siang privat di Gedung Putih, awal April 2026.

Trump sedang frustrasi. Ia meminta Prancis dan sekutu NATO lainnya untuk mengirim kapal dan bergabung dalam konflik melawan Iran. Namun Macron, seperti yang ditirukan Trump dengan aksen Prancis yang dibuat-buat, menjawab, "Non non non, kami tidak bisa melakukan itu, Donald. Kami bisa melakukannya setelah perang selesai."

Trump tidak berhenti di situ.

Di hadapan para tamu, ia berkata, "Saya menelepon Prancis, Macron, yang istrinya memperlakukannya dengan sangat buruk, masih dalam pemulihan dari pukulan di rahang." Komentar itu langsung disambut tawa di ruangan tersebut.

Yang dimaksud Trump adalah sebuah video yang beredar luas dari Mei 2025. Dalam rekaman itu, Brigitte Macron terlihat mendorong wajah suaminya saat keduanya turun dari pesawat kepresidenan. Macron saat itu menjelaskan bahwa itu hanya candaan antara pasangan, dan menyebut video tersebut sebagai bagian dari kampanye disinformasi.

Macron sedang berada di Seoul, Korea Selatan, ketika komentar Trump itu sampai ke telinganya. Dengan wajah yang tampak menahan kesal, ia merespons singkat: "Kata-kata yang saya dengar tidak elegan dan tidak sesuai standar. Saya tidak akan menanggapinya, itu tidak layak mendapat respons."

Namun keesokan harinya, Macron menambahkan satu kalimat yang terasa seperti serangan balik terukur. Sambil membahas cara Trump berkomunikasi soal Iran yang menurutnya penuh kontradiksi, ia berkata, "Kalau ingin dianggap serius, jangan katakan hal yang berlawanan setiap hari dengan apa yang kamu katakan kemarin. Dan mungkin jangan bicara setiap hari."

Di Prancis sendiri, reaksi publik meledak. Yaël Braun-Pivet, Ketua Majelis Nasional Prancis, yang bahkan dikenal sebagai pengkritik Macron, angkat bicara: "Kita sedang membicarakan masa depan dunia. Di Iran saat ini, jutaan nyawa terpengaruh. Orang-orang gugur di medan perang. Dan kita punya seorang presiden yang tertawa dan mengejek orang lain."

Di balik saling sindir ini, ada ketegangan strategis yang jauh lebih serius. Prancis diam-diam memposisikan diri sebagai stabilisator pasca-konflik. Militer Prancis mendekati sekitar 35 negara untuk membahas misi multinasional yang akan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz setelah perang berakhir. Ini murni defensif dan bergantung pada de-eskalasi, namun mencerminkan jurang strategis yang nyata antara Washington dan Paris.

Trump ingin bantuan hari ini. Macron sedang merencanakan hari esok.

Dalam konteks itulah Brigitte Macron menjadi semacam proksi retorika bagi Trump: dipuji ketika ia ingin terlihat besar hati, diejek ketika ia ingin menegaskan apa yang ia sebut sebagai kelemahan Prancis.

Perseteruan dua pemimpin ini bukan sekadar drama pribadi. Ini adalah cermin dari retakan yang semakin dalam di tubuh NATO, di saat dunia justus membutuhkan kesatuan yang paling solid.
~
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pemimpin Dunia Bertengkar Soal Iran, Begini Cara Trump Permalukan Marcon Didepan Sekutu Nato

Trending Now