Afida Firya: Kekuatan Cinta Dalam Islam

Redaksi
April 20, 2026 | April 20, 2026 WIB Last Updated 2026-04-19T22:08:43Z
Jakarta, detiksatu.com || Cinta adalah perasaan emosional yang mendalam terhadap seseorang, sesuatu, atau bahkan konsep tertentu, yang biasanya disertai dengan rasa kasih sayang, kepedulian, keterikatan, dan keinginan untuk memberi serta melindungi.

Cinta tertinggi dalam Islam, adalah cinta kepada Allah dan RasulNya. Cinta kepada keduanya ini lebih dari kecintaan kepada dirinya sendiri. Seorang Muslim harus mengarahkan jiwanya untuk selalu cinta kepada Allah dan RasulNya.

Maknanya apabila Allah dan RasulNya mewajibkan sesuatu, ia harus mengikutinya, Bila keduanya melarang sesuatu, ia pun harus menjauhinya. Ia tidak boleh mendahulukan nafsunya daripada kecintaan kepada keduanya

Misalnya, ketika ia sedang asyik bekerja datang panggilan shalat. Maka meski sedang asyik, ia harus menghentikan pekerjaanya untuk segera ke masjid menjalankan shalat. Panggilan adzan itu lebih baik dari panggilan apapun di dunia ini.


Maka di zaman Rasulullah, kita melihat adanya cinta yang mendalam kepada Allah dan RasulNya. Suatu saat pernah ada panggilan jihad, seorang pemuda yang baru saja selesai akad nikah langsung buru-buru menemui panggilan itu.

Begitu juga ketika ayat tentang khamr turun, para ‘sahabiat‘ langsung membuang dan menumpahkan minuman-minuman khamar itu di jalan-jalan. Ketika perintah jilbab datang, wanita-wanita Muslim langsung buru-buru cari kain untuk menutupi rambutnya.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)



فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an Nisa’ 65)


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an Nuur 51)


Seorang Muslim merasakan kebahagiaan yang mendalam ketika menaati Allah dan RasulNya. Kenikmatan yang sulit ditandingi dengan kenikmatan-kenikmatan lain di dunia. Seorang Muslim yang telah menyelesaikan kewajiban shalat dhuhur misalnya. Maka ia merasakan kebahagiaan yang tinggi setelah shalat itu. Bila ada panggilan shalat dhuhur, ia belum segera melaksanakan shalat, maka ada perasaan mengganggu atau khawatir dalam dadanya.

Seorang Muslim merasa bahagia ketika ia melakukan hubungan seks yang sah sesuai Islam, dengan istrinya. Ia merasa galau ketika ia melakukan ‘aktivitas seks‘ yang bertentangan dengan Al-Qur’an atau as Sunnah.

Begitulah yang terjadi dalam perasaan orang Mukmin ketika ia telah merasakan nikmat yang tertinggi, taat kepada Allah dan RasulNya. Karena itu Rasulullah mengingatkan,

Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilempar ke dalam neraka.” (HR Bukhari Muslim)

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًاIslam


“Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)

Dengan kecintaan yang tinggi pada Allah dan RasulNya, maka seorang Muslim akan senantiasa mengarahkan hidupnya untuk selalu taat kepada keduanya. Ia takut atau sedih kalau sampai melanggar perintah Allah dan RasulNya.

Kecintaan yang mendalam ini mengakibatkan seorang Muslim berusaha sekuat mungkin menjalankan perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunnah. Selain itu ia juga berusaha menjauhi yang dilarang Allah, baik yang haram maupun yang makruh.

Makanya di samping shalat wajib lima waktu ia berusaha menjalankan shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud dan lainnya. Juga ia berusaha sedekah sebanyak mungkin selain berzakat. Ia tidak tahan melihat kemiskinan terpampang dihadapannya. Ia ingin selalu memberi dan memberi.



Begitulah bila tertanam kecintaan yang mendalam terhadap Allah dan RasulNya. Yang tumbuh dalam dirinya adalah sifat-sifat akhkaqul karimah. Akhlak yang mulia.

Rasulullah saw menjelaskan,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)


خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari & Muslim)

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)


Kecintaan yang mendalam terhadap Allah dan RasulNya ini, selain menumbuhkan akhlak yang mulia, juga akan memberikan kebahagiaan yang tinggi pada seorang Muslim.

Mari kita renungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadikan seorang Muslim Bahagia (mencapai kemenangan di dunia dan akhirat), berikut ini:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ


“Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin.(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya). Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka serta orang-orang yang memelihara salat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mukminun 1-11)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Afida Firya: Kekuatan Cinta Dalam Islam

Trending Now